Selamat Ulang Tahun KBR68H!

KBR68H adalah Kantor Berita Radio terbesar di Indonesia, melayani lebih dari 800 radio jaringan di seluruh Indonesia, Asia dan Australia.KBR68H juga adalah kantor tempat saya bekerja sekarang ini. Nggak terasa, sudah 3 tahun saya bergabung dengan kantor ini. Disini, ada banyak orang hebat yang saya temui yang memberikan inspirasi. Banyak hal yang membuat pikiran dan wawasan saya jadi lebih terbuka. Bekerja tidak melulu tentang mengerjakan pe-er dan digaji. Ada yang namanya idealisme dan ada tujuan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik tidak hanya bagi diri kita sendiri tapi juga bagi orang lain.

Saya share tulisan dari kepala sekolah kami ya, sebuah catatan untuk 12 tahun KBR68H. Silahkan dibaca 🙂

Catatan untuk 12 tahun KBR68H

Suatu pagi di Pantai Barat Aceh.  Tepatnya: Calang, 11 Maret 2008.  Terik matahari mulai menyengat. Kami berkumpul di bawah tenda yang dipasang untuk peneduh, di halaman sebuah madrasah.   Dengan berkeringat, berbatik dan penuh semangat, saya hendak turut meresmikan Radio Arisca. Itulah radio terakhir yang dibangun KBR68H di Aceh, dalam program rekonstruksi dan rehabilitasi radio pasca tsunami.

“KBR68H membantu kami merasa jadi bagian Indonesia,” kata seorang bapak yang duduk di samping saya.  Dia seorang pegawai di Dinas Informasi Calang. Ia baru dipindah ke kabupaten itu, rotasi dari kabupaten di Aceh Tengah.  Di kota sebelumnya, ia rutin mendengar program-program KBR68H lewat radio setempat. Sekarang di Calang, ia akan menyimak lewat Arisca. “Dari program KBR68H, saya bisa mengikuti apa yang terjadi Papua, NTT, Sulawesi. Sebaliknya, mereka yang di daerah itu juga bisa tahu tentang bencana tsunami di Aceh.  Ini  sumbangan nyata untuk memperkuat Indonesia,” katanya lebih jelas.

Saya tertegun. Tidak menyangka KBR68H akan mendapat apresiasi seserius itu di tempat terpencil pinggir pantai ini. Calang — tempat yang paling luluh lantak akibat tsunami.  Memang, menyediakan informasi adalah misi pokok yang melatari lahirnya KBR68H. Informasi untuk siapapun, termasuk mereka yang tinggal di tempat-tempat paling terisolir, dimana media lain biasanya enggan menyapa.  Kami percaya, hanya dengan informasi yang cukup dan berkualitas baik, masyarakat akan dapat menghadapi persoalan sehari-hari dan menjalani transisi demokrasi dengan berhasil.

Misi kami adalah memenuhi hak masyarakat akan informasi. Kalau, dengan itu, ada orang yang menilai kontribusi KBR68H telah memperkuat Indonesia, sesungguhnya itu boleh dianggap sebagai bonus.  Negeri ini memang memanggil kita untuk bekerja, lebih dari sekadar bandrol.  Bagaimana kita hanya akan bekerja menyediakan informasi, kalau di banyak tempat seperti Calang itu, tak ada media sama sekali?  Itu sebabnya, KBR68H membantu masyarakat mendirikan radio di berbagai tempat terpencil, membuka akses informasi. Ada di Paniai, dan Yahukimo (Papua), Bintuni (Papua Barat), Saumlaki, Tual, Masohi,  dan P. Buru (Maluku), juga Sumba Tengah (NTT), dan Mentawai (Sumatera Barat). Juga tempat bencana seperti Porong.  Tahun ini, kami berharap untuk menyelesaikan satu lagi radio komunitas di Sarmi (Papua).

Radio Pikon Ane

Pengalaman membangun radio di Yahukimo, mengajarkan kami untuk tidak menyerah pada keterbatasan. Setelah gagal panen ubi yang menyebabkan puluhan warga Yahukimo meninggal akhir 2005, KBR68H membantu mendirikan radio komunitas di sana. Supaya informasi lancar, dan berbagai persoalan bisa dideteksi dini.  Tetapi karena Kurima, kecamatan tempat radio itu akan dibangun, belum ada listrik, tim KBR68H mesti berpikir keras, dan berusaha menyediakan listrik lebih dulu. Tak mungkin mendirikan radio siaran, tanpa ketersediaan listrik.  Dan setelah berkutat kerja bareng masyarakat lokal, KBR68H berhasil membangun pembangkit listrik tenaga air. Skala kecil.  Hanya 9.000 watt yang dihasilkannya. Tetapi itulah listrik pertama, dan satu-satunya sampai sekarang di Kurima. Bukan hanya Radio Pikon Ane yang mendapat pasok listrik, tetapi juga honai warga, sekolah, gereja dan fasilitas kampung lainnya.

Ketika siaran KBR68H tertangkap di Kurima, dan disebar-luaskan Radio Pikon Ane; atau sebaliknya peristiwa di Yahukimo menjadi menu berita nasional, kami berharap warga Yahukimo merasakan makna menjadi bagian dari Indonesia.  Seperti yang dirasakan petugas dinas informasi di Calang itu.

KBR68H berupaya merawat Indonesia, terutama tentulah lewat program-program siarannya. Namanya juga kantor berita radio.  Selain mengutamakan program berbasis jurnalisme, KBR68H menghadirkan program-program pendidikan publik yang cocok dengan persoalan yang dihadapi Indonesia. Mengingat bangsa ini tengah intens mengarungi transisi demokrasi, kami hadirkan program “Pilar Demokrasi”.  Karena begitu banyaknya kasus pelanggaran hak asasi manusia yang tak tuntas ditangani, kami ketengahkan program “Reformasi Hukum dan HAM”.  Saat intoleransi menguat, dan paham bhineka tunggal ika mendapat tantangan serius, KBR68H hadir dengan program “Agama dan Toleransi”.  Pada program-program itu, pendengar dapat turut menyumbang gagasan.  Ruang ini memang disediakan untuk ajang pertukaran pendapat.

Tetapi, ada sebagian kecil masyarakat yang tak ingin berdialog. Mereka merasa pandangannya paling benar. Mereka hendak memaksakan pandangan itu, kalau perlu dengan kekerasan.  Itulah yang terjadi pada 15 Maret 2011, ketika sebuah bom buku dikirim ke kantor KBR68H.  Bom itu ditujukan untuk Ulil Absar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal; tetapi ancaman itu dapat menyasar siapa saja yang mempromosikan kebebasan berpikir dan berkeyakinan.  Bom buku itu telah mengambil korban, tangan Dodi Rahmawan –perwira polisi, dan memutus pergelangan kirinya.  Tragedi itu akan selalu kami catat. Sekaligus pengingat akan pentingnya ikhtiar terus memajukan hidup bersama, damai dalam perbedaan.  Bhinneka tunggal ika itu perlu kita upayakan tanpa henti.  Itulah inti merawat Indonesia, pada masa kini.

Sebagai media, KBR68H terus mengembangkan diri.  Tiga tahun lalu, kami merintis Green Radio di Jakarta, sebuah radio yang fokus pada persoalan lingkungan.  Ini adalah radio siaran pertama di dunia memakai nama Green Radio.  Bukan hanya isinya tentang lingkungan. Tetapi juga radio yang bermaksud mengajak pendengarnya memperbaiki kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.  Radio ini misalnya berinisiatif mengajak pendengarnya melakukan reforestasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.  Merintis apa yang mudah-mudahan kelak akan menjadi Hutan Sahabat Green.

Bersama kelompok Tempo,  KBR68H melansir inisiatif baru untuk mendirikan Tempo TV. Sebuah  penyedia program-program televisi berbasis jurnalisme.  Kami tak ingin mengeluh lagi tentang mutu program televisi. Tetapi menyumbangkan apa yang bisa, untuk memperbaiki kualitas jurnalisme televisi. Agar media yang kini menikmati kebebasan itu,  lebih dekat memenuhi harapan khalayaknya.  Program Tempo TV saat ini dapat disaksikan di 44 televisi lokal, dan Agustus mendatang akan mengisi satu kanal di televisi berbayar.

Dua belas tahun, KBR68H bergerak tanpa henti, berupaya memenuhi hak masyarakat akan informasi.  Sekarang 820 radio menyiarkan program-programnya.  Sebagian besar, 700-an radio, di Indonesia. Dan 100 radio lebih berada di 9 negara Asia dan Australia.  Dalam upaya merawat Indonesia, KBR68H juga berhasil menunjukkan produk yang layak siar di manca negara.  Kebebasan telah mengubah kita, dari sekadar konsumen informasi, menjadi produsen program radio yang dapat diterima di kawasan Asia.  Kita berdiri sejajar dengan media lain di tataran regional.  Itu meyakinkan kita bahwa menjadi Indonesia adalah sesuatu yang membanggakan. Dan, karenanya perlu dirawat.

(Tosca Santoso, Managing Director KBR68H)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s