Jakarta, I Love You But I…

4 tahun lalu, saya memutuskan untuk meninggalkan kota kecil tempat kelahiran untuk tinggal di ibukota yang katanya, lebih kejam dari ibu tiri. Yep, saya nekat meninggalkan kota Solo untuk hidup di Jakarta. Dengan demikian, saya sudah melanggar kata kata saya sendiri yaitu “tak akan pernah mau cari kerja di Jakarta”. Tapi sayang, godaan untuk bekerja bersama Komunitas Utan Kayu khususnya di KBR68H lebih berat. Akhirnya, bertenggerlah saya di sini.

Sebagai mahluk manis yang baru menjejakkan kaki di Jakarta, banyak hal yang bikin saya terkagum kagum. Terutama saat melewati kawasan Bundaran HI. Ini toh, yang sering saya liat di tipi *heheh ga sekampungan itu sih* tapi yang jelas, saya takut, grogi, keder menghadapi kota yang begitu besar ini. Dulu, sempet kepikiran bahwa saya akan kerja di sebuah bangunan megah di kawasan Sudirman. Man, pandangan saya akan Jakarta sempit sekali. Ternyata Jakarta tak hanya berisi gedung gedung megah dan indah seperti yang saya lihat di televisi. Kantor saya ternyata berada di kawasan Utan Kayu, jauh dari bayangan saya akan gedung-gedung tinggi itu. Agak kecewa pada awalnya. Gak keren menurut saya. Belakangan..saya menyadari betapa beruntungnya kerja di daerah sini ini..utan kayu. Suasana yang asri dan jauh dari bising. Meskipun pagi hari tetep macet di jalan depan kantor.

Buat saya, Jakarta adalah kota yang loveable. Semua ada disini. Sayapun, jadi anak kota – entah apa maksudnya ini. Banyak hal yang tak saya temukan di kota kecil. Pikiran saya lebih terbuka, wawasan lebih berkembang. Setidaknya buat saya, Jakarta membawa perubahan. Lambat tapi pasti, saya mencintai kota ini. Merasa menjadi bagian dari kota ini, dan karenanya saya sangat miris bahwa di usia Jakarta yang ke 484 ini, ia telah berkembang tanpa memiliki jati diri. Sehingga entah berapa jumlah pohon ditebang untuk membuat jalan layang, jumlah kendaraan pribadi tak terbendung hingga memenuhi jalanan ibukota dari subuh hingga subuh lagi. Sementara knalpot bis kota mengepulkan asap hitam yang membuat sesak dada. Para ayah dan ibu semakin jarang bertemu anak anaknya karena kendala waktu dan jarak. Tak ada ruang terbuka hijau tempat air bisa kembali ke bumi. Jakarta menyisakan perih saat melihat kali Ciliwung yang tertutup timbunan sampah dan anak kecil serta bapak tua berak diatasnya.

Disini, jakarta, jantung negara Indonesia berada. Dan karena itu juga menjadi cerminan bangsa ini. Jelas menunjukkan negara ini sedang semrawut dan tak jelas arah dan tujuannya. But here I am. I’m just a small girl, Living in a big city where my mind  can run free  and dream without no one knowing where my shadow went!…...Ceileh…

So..Happy Birthday Jakarta. Diringi doa dan harapan dari saya yang merasakan kerasnya dirimu. Semoga kelak kau melunak.

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta, I Love You But I…

  1. akankah saya juga mulai mencintai jakarta? hmmm berat, karena solo dan kampung halaman bagaimanapun jg sulit dikalahkan. tp iya, disini lebih banyak hal yg membuat kita bs lebih ‘hidup’. . semangat!! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s