Nasib Pedestrian di Ibukota

Seandainya bisa begini nyaman jalan kaki di Jakarta

Saya suka menghabiskan waktu dengan jalan jalan sebetulnya. Literally jalan jalan. Bukan pake angkot, motor, mobil atau taksi. Ganti higheels dengan sepatu kets atau flat shoes, lalu mulai berjalan kaki ke mana saja yang saya mau. Karena hobi ini, sayapun lebih suka jalan kaki untuk cari makan di warung atau mini market terdekat. Daripada cape cape ngeluarin motor, manasin mesin trus parkir, trus cari recehan buat bayar tukang parkir– ini sih pelit namanya :p – trus pulang, buka gerbang sambil pegangin motor, angkat motor ke teras, trus…..aduh ribet sekali bukan???.

Nah..ceritanya semenjak saya di Jakarta, saya semakin jarang jalan kaki. Sebabnya, jalan kaki di Jakarta sungguh sungguh membuat saya frustasi. Kemanapun kaki saya melangkah, yang ada hanya rasa was was takut diserempet motor, mobil atau bajaj! (kemanaa kemanaa kemanaaa – backsound alamat palsu ayu ting ting) . Saya merasa hak asasi sebagai seorang pejalan kaki telah dirampas. Oleh siapa? Oleh para pedagang kaki lima, oleh motor motor nekat yang merebut trotoar, oleh vas vas bunga segede gaban yang dipajang di trotoar, entah dengan maksud apa, mengingat bunga/daunnya pun tak terawat. Kalau sudah begini, dimana saya harus mengadu? (Dimanaaa dimanaa dimanaaa – masih dgn backsound ayu ting ting). Intinya, hak saya sudah dihabisi oleh pembangunan kota yang tak memanusiakan warganya. Sedih ya… *sodorin tissue* 

Seandainya lebih banyak ruang bagi pedestrian, mungkin akan lebih banyak lagi orang yang memutuskan untuk meninggalkan motor/mobilnya di rumah dan memilih jalan kaki sejauh kaki bisa melangkah. Seperti semalam, saya dan suami memutuskan untuk jalan kaki ke sebuah tempat makan, yang biasanya kami capai dengan naik motor. 12000 langkah kaki bolak balik kami jalani karena ingin sekalian olahraga. Selain sehat, juga mengurangi emisi udara bukan? Tapi lagi lagi, sepanjang jalan saya harus berkelit menghindari lubang di trotoar, PKL , lalu menajamkan mata seandainya ada motor yang tiba tiba melipir di pinggiran jalan. Berat sekali…

 

Sebuah kota tidak akan pernah menjadi kota tanpa ada penghuni di dalamnya. Maka seharusnya pemerintah menempatkan warga kota sebagai dasar dari perencanaan pembangunan. Warga kota bukan benda yang bisa ditaruh sembarangan. Ah, nasib nasib…

Advertisements

5 thoughts on “Nasib Pedestrian di Ibukota

  1. Setujuu…. Jalan kaki di Jakarta ibarat menyabung nyawa… rebutan dengan motor… pedagang kaki lima… Tapi ini soal kemauan… buktinya di jalan thamrin fasilitas sudah memadai… dulu ada di depan Trisakti, pedestrian yang agak manusiawi… sekarang bagaimana ya nasibnya? Sepertinya kota yang manusiawi bisa diukur seberapa besar perhatian terhadap pejalan kaki……

  2. belajar dari Bogota, Enrique pelanosa eks walikotanya membangun trotoar yang besar dan nyaman utk pejalan kaki. Dia bilang, kota yang beradab adalah kota yang memikirkan pedestrian. Waa..kapan kita dapet pemimpin yang gitu yaaahhhh 😀

  3. Bentar lagi DKI 1 akan diperebutkan… mungkin gak minta kontrak politik Gubernur berikutnya, berkomitmen memanusiakan pejalan kaki di Jakarta, kalau tidak berhasil mundur….. HA HA AHA HA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s