Remaja Labil Tanggung Jawab Siapa?

Kaget melihat video tentang sekelompok remaja putri di Bali yang menganiaya temannya dengan menjambak, memukul, dan memotong pakaiannya hingga hampir telanjang. Video itu direkan oleh salah satu remaja yang ada di lokasi kejadian. Peristiwa itu lalu dia unggah melalui You Tube, dengan tujuan untuk membuat malu temannya yang disiksa. Alhasil, bukannya  berhasil membuat malu, justru dia dan teman temannya kini diperkarakan secara hukum.

Bullying oleh Sekelompok Remaja Putri Di Bali

Potret remaja Indonesia yang menyedihkan. Memang, tidak semua remaja kita seperti itu. Masih banyak kok, pemuda yang berprestasi. Lalu, kenapa sekelompok remaja putri itu berperilaku demikian? Seolah olah kekerasan adalah sah untuk dilakukan?

Apa karena tontonan di televisi yang sejak satu dekade terakhir ini banyak menayangkan sinetron yang berisi tentang kekerasan? Coba hitung, berapa banyak sinetron yang ide ceritanya tentang remaja putri yang baik (terlalu baik malah dan gak wajar) vs  sekelompok geng putri yang jahat dan suka nge-bully.

Suatu hari saya pergi ke salah satu mall di Jakarta, dan hampir semua toko disitu menawarkan model baju yang sama. Kata penjualnya “ini mbak, seperti yang lagi dipake Chelsea di sinetron X – saya lupa judulnya. Model ini lagi booming loh..”. Benar, saat itu, model baju itu sedang banyak dipakai oleh cewek cewek ABG.

Remaja butuh arahan dan dukungan

Sebegitu besar peranan media terutama televisi dalam menentukan tren fashion style.  Bagaimana peranan televisi khususnya sinetron dalam mengubah kepribadian anak atau perilaku remaja? Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa media punya perngaruh besar dalam membentuk karakter remaja. Tayangan yang dihadirkan berulang ulang membentuk pola pikir bahwa hal seperti itu wajar untuk dilakukan atau secara tidak sadar membuat mereka melakukan hal yang sama.

Lalu bagaimana menangkisnya? Tidak semua remaja gampang terpengaruh hal hal yang buruk baik dari media ataupun lingkungannya. Kita masih punya harapan karena masih banyak remaja yang sukses melewati masa transisi kehidupannya menjadi seorang dewasa. Tapi remaja ini tidak bisa sendiri. Mereka butuh dukungan, support dari orang orang disekitarnya. Keluarga, adalah pemegang peranan utama dalam menuntun remaja untuk tetap on track. Lalu sekolah adalah tempat dimana remaja menghabiskan sebagian besar waktunya. Saya berharap sudah semakin banyak sekolah yang menyadari peran Bimbingan Konseling untuk murid-muridnya dan mungkin bisa mengadakan berbagai kegiatan positif yang menarik mereka untuk terlibat.

Soal tayangan di televisi, kita bisa ikut membantu para remaja ini misalnya dengan melaporkan tayangan televisi yang tidak mendidik ke Komisi  Penyiaran Indonesia.

Intinya, masih banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah mereka melakukan hal hal yang tidak bertanggungjawab. Salah satunya juga dengan memberikan contoh yang baik, yang bisa ditiru oleh para remaja tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s