Terbang

photo by Natsumi Hayashi

Sepasang kaki kecil itu kupaksa berlari sambil melompat. Di dalam mimpi aku bisa melakukannya. Kenapa sekarang tidak? Untuk ke seratus kalinya aku coba lagi, ambil ancang-ancang, melompat, dan kugerakkan kakiku seolah-olah ingin berlari di udara. Tunggu dulu…aku melompat lebih tinggi dari biasanya, aneh, aku … hei…aku tidak segera jatuh ke tanah..aku..terbang..akhirnya!

Selimut tebal yang menutupi wajahku membuat nafasku sesak dan membuatku terbangun. Ah, ternyata terbang tadi cuma mimpi. Mimpi di dalam mimpi. Aku seringkali mengalaminya. Disaat kukira aku sadar, ternyata aku masih di dunia mimpi. Jutaan kali aku mimpi terbang. Sejak masih TK dan seringkali mimpi itu datang hingga sekarang.  Tapi anehnya, setiap kali bermimpi terbang, yang kulihat dalam mimpi adalah kedua kaki kecilku saat aku kira kira berumur (mungkin) 7 tahun.  Dan dalam mimpiku itu, aku harus ambil ancang ancang untuk bisa terbang. Caranya aku melompat, lalu segera kugerakkan kakiku seperti berlari di udara. Biasanya harus dua tiga kali ancang ancang baru aku bisa terbang. Betapa aku sangat berharap mimpi itu bisa jadi kenyataan.

Mimpi terbang itu sering datang meskipun aku sudah abege– tapi bukan labil! Aku sebetulnya ga suka waktu orang bilang aku labil. Aku jauh lebih stabil dari siapapun di dunia ini. Aku tahu dan sadar betul tentang apa yang aku inginkan. Ya, aku ingin, misalnya, Ayah berhenti memanggilku bajingan dan Ibu tidak lagi suka keluar malam. Aku ingin, guruku lebih toleran saat aku merasa ngantuk di sekolah, dan ingin teman-temanku berhenti mencampuri urusan pribadiku seolah-olah aku ini butuh pertolongan. Aku baik-baik saja!

12.15WIB. Aku kesiangan ternyata. Sial, mimpi terbang tadi bikin tidurku jadi lebih lama dari yang seharusnya. Aku punya sesuatu yang sudah kurencanakan lama. Harusnya pagi tadi, bersamaan dengan munculnya matahari pagi rencana itu kujalankan. Harusnya pagi tadi…sial.

Aku menutup kembali mataku dan pikiranku kembali pada dua tahun lalu saat Ayah masih sehat jiwanya. Aku ingin mengingatnya seperti itu. Ayah yang paling ganteng  dan  paling lucu sedunia. Ayah yang menjadi alasan aku lebih suka langsung pulang ke rumah daripada jalan-jalan ke mall seperti abege lain. Ayah yang mengajari aku berenang, satu satunya olahraga yang aku bisa dan aku suka. Ayah seperti seorang jagoan untuk aku, anak perempuan satu satunya yang cantik jelita, mirip ibuku.

Bayangan ayah yang menyenangkan tadi seketika berubah menjadi mengerikan. Ayah membawa ikat pinggangnya dan tanpa ragu melecutkannya pada tubuhku. Awalnya aku menangis, tapi karena sudah tiap hari dia lakukan, aku berhenti menangis dan memilih utnuk diam. Terkadang kalau bisa aku kabur masuk ke kamar. Aman. Dua tahun dia perlakukan aku begitu. Bukan cuma dicambuk, kadang djiambak, ditendang. Suka suka dialah. Katanya aku memang masih cantik mirip ibuku, tapi aku juga pelacur seperti ibuku. Aku diam. Ibu melacur karena Ibu pikir tak punya kemampuan lain, dia pikir dia cuma bisa menjual tubuhnya yang molek untuk dapat uang. Sejak kecelakaan itu, satu tangan Ayah putus dan kakinya tak bisa berjalan dengan baik. Pincang. Ayah malu, depresi dan tak mau cari kerja.  Lalu Ibu yang harus cari uang untuk aku kan?

Nafasku tersengal, jantungku berdegub lebih kencang, perasaan marah itu datang dan aku merasakan hangat di pipiku. Ah, cairan itu keluar lagi. Aku tak suka menyebutnya air mata. Karena aku tidak cengeng.

Sayup kudengar suara pintu kamarku diketuk.

“Bil….Nabila…”panggil Ibu.

Itu pasti Ibu mau menyuruh aku makan. Malas, aku tidak mau bertemu Ayah. Paling juga nanti ibuku menaruh sepiring nasi dan sayur serta lauk seadanya di depan pintu. Aku makan di kamar saja. Sebenarnya aku kasian sama Ibu. Kenapa dia tidak cari pekerjaan lain. Jadi pembantu misalnya. Tapi biaya sekolah sekarang mahal. Gaji pembantu tidak akan cukup untuk hidup. Pembantu masih dianggap bukan pegawai. Asal dikasih makan dan tempat tinggal gratis, gaji tidak perlu pake standar UMR. Makanya ibu lebih suka jadi…pelacur. Hehhhh…

Aku masih memejamkan mataku. Kupikir tak ada gunanya juga aku makan. Tinggal beberapa jam lagi lalu malam akan datang. Aku bisa tidur lagi dan melupakan segala masalah itu. Tapi hari ini berjalan lambat.

Tik…tok…tik…tok…  Aku berusaha menikmati bunyi detak jam dinding. Kencang juga. Tumben hari ini sepi. Kemana teriakan Ayah dan jeritan Ibu?

Tik…tok…tik…tok… Baru satu jam lewat sejak aku bangun. Aku melirik ke sebuah tumpukan buku di depan jendela. Berantakan. Semalam setelah membaca beberapa novel karya Paulo Coelho aku tertidur.

Tik…tok…tik…tok…

Tik…tok…tik…tok…

Tik…tok…tik…tok…

Aku lapar. Akhirnya kuambil juga sepiring nasi dan oh, sepotong ayam dan sayur daun singkong. Seperti menu yang dijual di warung makan sebelah.

Perut yang lumayan kenyang ini membuatku tertidur juga. Aku mimpi terbang..lagi…

Kali ini kaki yang dimimpiku bukan kakiku semasa kecil. Ini kakiku sendiri. Kakiku saat aku berumur 16 tahun. Kakiku saat ini. Tunggu dulu. Ada yang aneh di mimpiku kali ini. Pertama, aku tidak perlu ambil ancang-ancang untuk terbang. Aku langsung melayang, dan hebatnya aku bisa mengendalikan tubuhku untuk terbang ke arah yang ku mau. Ke kanan, ke kiri…lalu aku pelan pelan menuju ke sebuah rumah yang aku kenal, rumahku!

Aku terbang melintasi atap rumahku, lalu pelan pelan turun ke jendela. Dari situ aku melihat ibuku di sudut rumah sedang menangis, bukan pertama kali aku melihat ibuku menangis. Tapi sungguh aneh. Kemana Ayah? Biasanya ibu menangis karena dipukul ayah. Tapi kali ini ayah tidak ada. Aku coba memanggil ibu, tapi suaraku tidak keluar. Mungkin ini bayarannya. Kau bisa terbang tapi tidak bisa bersuara. Manusia tidak bisa memiliki semuanya kan? Aku melintas ke sisi rumah yang lain. Dari jendela kamar ayah kulihat ternyata ayah disitu. Rupanya ia sedang tidur. Pantas seharian tadi tidak ada suaranya. Aku melihat wajah ayah sekilas, hmm dia lebih pucat dari biasanya dan tumben tidak mendengkur. Biasanya suaranya keras sekali hingga terdengar sampai kamarku. Pasti dia terlalu lelah setelah kemarin dia menghajar ibu habis habisan.  Terlalu lelah hingga dia tidak bisa mendengkur.

Aku terbang lagi, kali ini aku menuju ke kamarku. Aku ingin istirahat dan tertidur. Aku berusaha membuka jendela tapi lalu aku tercengang. Aku tidak bisa memegang jendela! Tanganku lolos begitu saja melewati dinding! Tak mungkin!!!

Aku gerakkan jari-jariku yang sudah ada di dalam ruangan sementara tubuhku masih melayang diluar. Aku julurkan tanganku dan kulihat lenganku tembus ke dalam ruangan. Hmmm ini mimpi yang baru. Jadi aku tidak cuma bisa terbang, tapi bisa menembus tembok. Hebat, hanya saja aku tidak bisa bersuara. Itu yang tidak hebat.

Aku beranikan diri untuk menembus tembok.Dan hap, aku sudah berada di dalam kamarku. Sebentar saja aku sudah duduk manis di kasurku yang lembut. Kalau saja aku tidak bergerak ke sisi lain kamar, maka aku tidak akan pernah tahu bahwa ada diriku yang lain sedang tergeletak tak bernyawa di lantai, dengan mulutku mengeluarkan busa. Wajah diriku yang lain itu terlihat mengerikan. Aku merasa ini adalah mimpi yang paling aneh. Aku mulai merasa takut dan ingin segera bangun dari tidurku. Tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Ini mimpi, aku hanya bangun kalau memang waktunya untuk bangun.

Aku melayang menembus tembok dan kamar dan ruang ruang lain di rumah berusaha menemukan ibuku. Dan aku menemukannya, dalam keadaan yang kurang lebih sama sepertiku. Ibu tergeletak di atas kasur sambil memeluk ayah, mulutnya berbusa.

“Ayah! Ibu” Aku berusaha memanggil tapi suaraku tak bisa keluar. Yang ada hanya seperti bunyi angin yang berdesir desir..

“Ayah bangun! Ibu! Bangun!!!”

*

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbang melayang di atas rumahku. Terkadang aku bosan dan terbang ke tempat lain. Aku suka terbang ke rumah Andin, dulu, teman sekelasku. Dia sudah punya anak sekarang yang masih berumur 3 tahun. Aku cuma bisa bicara dengan anaknya. Tidak dengan Andin atau orang lain yang sudah dewasa. Cuma anak kecil dibawah 5 tahun yang bisa melihatku dan bicara bahkan bercanda denganku.

Aku terbang lagi…kali ini tanpa tujuan. Tapi seringkali aku tahu tahu berada di kamarku yang kosong. Aku tahu ini bukan mimpi karena aku tetap bisa terbang dan tidak pernah bangun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s