Mengenal Raden Saleh di Galeri Nasional

Lewat pameran yang digelar dari tanggal 3 – 17 Juni 2012, masyarakat diberi kesempatan untuk pertama kalinya, menyaksikan hasil karya luar biasa dari Raden Saleh (1811-1880). Seorang pangeran Jawa, yang menghabiskan 22 tahun dalam hidupnya, belajar seni melukis dan menjalin pertemanan dengan bangsawan di Eropa. Selama 22 tahun itu, hidupnya aman dan tentram. Tidak ada gejolak seperti yang dirasakan oleh saudara sebangsanya di tanah air, yang sedang berjuang dari penjajahan Belanda. Dulu, waktu kecil saya pikir selain pelukis, Raden Saleh juga termasuk satu dari pahlawan nasional. Ternyata bukan. Dia adalah pelukis saja. Seniman.

Lukisan Raden Saleh memang istimewa. Saya, sebagai seorang awam mengagumi setiap karyanya sebagai sebuah maha karya yang sangat detil dan hidup. Raden Saleh mencoretkan kuasnya dengan penuh perasaan. Warna-warni yang kompleks dan caranya melukis cahaya dan bayangan membuat saya merasa yakin pada apa yang dia lukis. Dari puluhan lukisan yang dipamerkan, yang paling menyedot perhatian adalah lukisan “Die Gefangennahme Diepo Negoros” atau Penangkapan Diponegoro yang berukuran 112×178 sentimeter. Lukisan ini yang paling terkenal dan saat ini merupakan koleksi milik Istana Negara. Raden Saleh juga menyukai melukis binatang. Dari yang saya lihat kemarin, beberapa lukisannya antara lain : Kuda Arab Diterkam Singa, Berburu Banteng di Jawa, dan Harimau Sedang Minum.

Buat saya, sangat menakjubkan bisa berada di tengah-tengah karya luar biasa dari seorang Raden Saleh yang sebelumnya hanya saya kenal lewat buku pelajaran di Sekolah. Lukisan-lukisan yang dipamerkan dibuat dari tahun 1830an – 1860an. Sehingga beberapa lukisan khususnya yang menampilkan tentang pemandangan desa baik di Jawa atau Belanda membuat saya membayangkan suasana pada tahun-tahun itu. Lukisannya yang sangat detail dan bergaya romantis membuat saya serasa ingin meloncat ke dalamnya dan berada pada jaman itu.

Tak jadi soal bahwa Raden Saleh bukan seorang pahlawan yang berjuang dengan bambu runcing–seperti yang saya bayangkan waktu kecil dulu. Meskipun sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan menjalin pertemanan dengan Eropa dan dia sendiri lebih suka tinggal di Eropa, tapi darah Indonesia itu tetap ada dalam dirinya. Terlihat dari lukisan-lukisannya yang banyak menyentuh soal keindahan alam di Jawa. Sentuhan tanah air dalam lukisan Raden Saleh itulah yang membuat dia terkenal karena dia berbeda dari pelukis-pelukis lain di Eropa. Selain itu ada kecintaan yang tersirat dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Salut untuk Galeri Nasional, kurator dan panitia yang sudah menyelenggarakan pameran luisan Raden Saleh ini. Setelah 132 tahun sejak kematiannya, ini adalah pameran pertama lukisan Raden Saleh dan pasti tidak mudah untuk mengumpulkan karya-karyanya yang sudah tercerai berai di tangan kolektor yang ada di berbagai belahan dunia. Selain menyuguhkan lukisan, panitia juga memberikan informasi yang memadai soal sejarah Raden Saleh. Saya sempat menonton film dokumenter tentang Raden Saleh yang berdurasi 20 menit dan film tersebut cukup membuka wawasan saya tentang sejarah hidup Raden Saleh.

Raden Saleh memiliki peran besar dalam hal masuknya seni lukis beraliran Romantisme di Indonesia. Sebuah gaya melukis yang berusaha menghadirkan kenangan romantis dan keindahan dari objek lukisannya. Dan saya, sangat menikmati berada di Galeri Nasional melihat hasil karyanya, meskipun sebelumnya harus antri panjang sebelum dapat giliran masuk 🙂

Antrian panjang untuk Raden Saleh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s