Puasa di Jakarta

Jakarta tampaknya lebih banyak mendatangkan pahala dibanding kota-kota lain selama bulan puasa. Kenapa? Karena selama bulan puasa, warga Jakarta harus berhadapan dengan macet yang lebih panjang. Jam pulang kantor lebih cepat, sehingga kalau macet biasanya dimulai pukul setengah 6 sore, selama bulan puasa kemacetan bisa dimulai dari pukul 3 sore. Alhasil, saya pun yang biasanya pulang lenggang kangkung jam 4 sore karena jalanan masih sepi, merasa percuma pulang lebih cepat karena kadar kemacetan yang bikin dahaga makin tak terkira.

Suatu hari waktu naik angkutan umum, perjalanan Gatot Subroto – Utan Kayu cukuplah memakan waktu 2,5 jam saja. Gila. Ditengah kemacetan tiada tara dan terik matahari di sore hari, disitulah ujian bagi para manusia yang berpuasa di Jakarta. Harus punya kesabaran ekstra dan menahan diri untuk tidak maki-maki sepanjang perjalanan. Tapi segala kemacetan di bulan puasa ini akan terbayar saat lebaran tiba. Minimal seminggu masa lebaran, Jakarta akan menjadi kota yang cantik, ramah dan menyenangkan untuk dirambah dan dinikmati keindahannya. Setelah itu, kemacetan akan kembali pada titik “normal”.

Begitu dahsyatnya tingkat kemacetan di Jakarta toh tidak membuat orang-orang yang tinggal di dalamnya berpaling dari ibukota. Jakarta dengan segala keunikan dan hal-hal “tidak menyenangkan” lainnya ternyata masih memiliki magnet yang kuat menarik penduduk di kota lain untuk ikut bergabung didalamnya.  Termasuk saya.

Advertisements

2 thoughts on “Puasa di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s