Korupsi bukan barang baru

Nulis yang agak serius dulu ya, kali ini kok kepikiran nulis soal korupsi. Gegaranya, seringkali saya liat komentar teman-teman baik di dunia nyata maupun dunia maya yang mengatakan bahwa di era kepemimpinan SBY, budaya korupsi semakin buruk.

Sebetulnya saya kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan, di jaman SBY korupsi semakin buruk ini. Mungkin betul, hanya saja menurut saya, dari dulu korupsi sudah merajalela, membusuk, mengakar, menggurita apapunlah itu namanya. Akan tetapi, pada saat itu belum ada  badan penganggulangan korupsi yang cukup sukses seperti KPK. Dengan adanya  KPK, mata kita dibuka dengan beragam aksi penangkapan koruptor dari semua level. Terakhir, yang paling memalukan adalah kelakuan Ketua Mahkaman Konstitusi, Akil Mochtar. Tepat beberapa hari sebelum Akil ditangkap tangan oleh KPK, dia memberikan pernyataan yang cukup keras di media. “Kalau saya bukan orang independen, kalau saya orang yang bisa disetir atau diintervensi oleh kekuatan-kekuatan lain, tidak mungkin tujuh orang (hakim) itu pilih saya. Memangnya mereka bodoh. Mereka hakim-hakim yang berpengalaman, beberapa guru besar malah.” Kata Akil di Tempo edisi 3 Oktober 2013.

Nah, kembali ke soal korupsi di jaman sekarang, saya rasa jumlahnya sama banyak dengan jaman orde baru atau orde lama. Bukan baru KPK saja yang dibentuk untuk memberantas korupsi. Soekarno dan Soeharto pun pernah membentuk lembaga untuk membasmi korupsi dan gagal. Artinya, tidak ada satupun lembaga tersebut yang berhasil menyentuh level-level penting seperti yang dilakukan oleh KPK saat ini. Sebut saja Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran) – dibentuk saat Kabinet Juanda; setelah itu ada Operasi Budhi, tahun 1963 yang diganti dengan Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi (Kontrar); masih tidak berhasil juga, pemerintah pada order baru membentuk Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) yang diketuai Jaksa Agung. Seperti yang sudah bisa ditebak, tim ini dianggap tidak serius lalu Soeharto membentuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa, seperti Prof Johannes, I. J Kasimo , Wilopo dan A. Tjokroaminoto. Setelah Komite Empat ini tidak berhasil juga, lalu ada Operasi tertib (Opstib).

Dari jaman orde lama hingga order baru, jangankan berhasil menyeret pelaku korupsi. Orang-orang yang ada di lembaga anti rasuah itu malah terlibat dan tertekan oleh para pejabat yang melakukan korupsi. Hingga angin segar dibawa oleh KPK pada era reformasi.

Presiden SBY sepatutnya juga bangga karena lembaga yang dia besarkan di awal pemerintahannya ini pada akhirnya dapat menjalankan amanah dengan baik. Meski apesnya, justru partai binaannya yang harus menelan pil pahit karena diacak-acak oleh KPK.

Memang, terlihat mengerikan bahwa korupsi di Indonesia ini sudah merambah ke semua lini. Tapi saya juga sangat mengapresiasi kerja KPK yang berani menangkap koruptor tanpa tedeng aling-aling. Saya punya harapan bahwa KPK dapat menjadi lembaga yang pada akhirnya dapat membersihkan Indonesia dari korupsi. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s